Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Ibnu Khaldun – Bapak Sosiologi dan Ekonomi

Nama lengkapnya adalah Abu Zaid Abd-Ar-Rahman Ibnu muhammad Ibnu  khalid (Khaldun) yang kemudian masyhur dengan sebutan Ibnu Khaldun. lahir di Tunisia pada 1 Ramadan 732 H./27 Mei 1332 M. adalah dikenal sebagai sejarawan dan bapak sosiologi Islam yang hafal Alquran sejak usia dini. Sebagai ahli politik Islam, ia pun dikenal sebagai bapak Ekonomi Islam, karena pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis jauh telah dikemukakannya sebelum Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (1772-1823) mengemukakan teori-teori ekonominya. Bahkan ketika memasuki usia remaja, tulisan-tulisannya sudah menyebar ke mana-mana.

Tulisan-tulisan dan pemikiran Ibnu Khaldun terlahir karena studinya yang sangat dalam, pengamatan terhadap berbagai masyarakat yang dikenalnya dengan ilmu dan pengetahuan yang luas, serta ia hidup di tengah-tengah mereka dalam pengembaraannya yang luas pula.
Selain itu dalam tugas-tugas yang diembannya penuh dengan berbagai peristiwa, baik suka dan duka. Ia pun pernah menduduki jabatan penting di Fes,Granada, dan Afrika Utara serta pernah menjadi guru besar di Universitas al-Azhar, Kairo yang dibangun oleh dinasti Fathimiyyah. Dari sinilah ia melahirkan karya-karya yang monumental hingga saat ini. Nama dan karyanya harum dan dikenal di berbagai penjuru dunia. Panjang sekali jika kita berbicara tentang biografi Ibnu Khaldun, namun ada tiga periode yang bisa kita ingat kembali dalam perjalan hidup beliau. Periode pertama, masa dimana Ibnu Khaldun menuntut berbagai bidang ilmu pengetahuan. Yakni, ia belajar Alquran, tafsir, hadis, usul fikih, tauhid, fikih madzhab Maliki, ilmu nahwu dan sharaf, ilmu balaghah, fisika dan matematika.

Dalam semua bidang studinya mendapatkan nilai yang sangat memuaskan dari para gurunya. Namun studinya terhenti karena penyakit pes telah melanda selatan Afrika pada tahun 749 H. yang merenggut ribuan nyawa. Ayahnya dan sebagian besar gurunya meninggal dunia. Ia pun berhijrah ke Maroko selanjutnya ke Mesir; Periode kedua, ia terjun dalam dunia politik dan sempat menjabat berbagai posisi penting kenegaraan seperti qadhi al-qudhat (Hakim Tertinggi). Namun, akibat fitnah dari lawan-lawan politiknya, Ibnu Khaldun sempat juga dijebloskan ke dalam penjara.

SETELAH keluar dari penjara, dimulailah periode ketiga kehidupan Ibnu Khaldun, yaitu berkonsentrasi pada bidang penelitian dan penulisan, ia pun melengkapi dan merevisi catatan-catatannya yang telah lama dibuatnya. Seperti kitab al-’ibar (tujuh jilid) yang telah ia revisi dan ditambahnya bab-bab baru di dalamnya, nama kitab ini pun menjadi Kitab al-’Ibar wa Diwanul Mubtada’ awil Khabar fi Ayyamil ‘Arab wal ‘Ajam wal Barbar wa Man ‘Asharahum min Dzawis Sulthan al-Akbar.

Kitab al-i’bar ini pernah diterjemahkan dan diterbitkan oleh De Slane pada tahun 1863, dengan judul Les Prolegomenes d’Ibn Khaldoun. Namun pengaruhnya baru terlihat setelah 27 tahun kemudian. Tepatnya pada tahun 1890, yakni saat pendapat-pendapat Ibnu Khaldun dikaji dan diadaptasi oleh sosiolog-sosiolog German dan Austria yang memberikan pencerahan bagi para sosiolog modern.

Karya-karya lain Ibnu Khaldun yang bernilai sangat tinggi diantaranya, at-Ta’riif bi Ibn Khaldun (sebuah kitab autobiografi, catatan dari kitab sejarahnya); Muqaddimah (pendahuluan atas kitabu al-’ibar yang bercorak sosiologis-historis, dan filosofis); Lubab al-Muhassal fi Ushul ad-Diin (sebuah kitab tentang permasalahan dan pendapat-pendapat teologi, yang merupakan ringkasan dari kitab Muhassal Afkaar al-Mutaqaddimiin wa al-Muta’akh-khiriin karya Imam Fakhruddin ar-Razi).
Bahkan buku ini telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Di sini Ibnu Khaldun menganalisis apa yang disebut dengan ‘gejala-gejala sosial’ dengan metoda-metodanya yang masuk akal yang dapat kita lihat bahwa ia menguasai dan memahami akan gejala-gejala sosial tersebut. Pada bab ke dua dan ke tiga, ia berbicara tentang gejala-gejala yang membedakan antara masyarakat primitif dengan masyarakat moderen dan bagaimana sistem pemerintahan dan urusan politik di masyarakat.

ADA beberapa catatan penting dari sini yang dapat kita ambil bahan pelajaran. Bahwa Ibnu Khaldun menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan tidak meremehkan akan sebuah sejarah. Ia adalah seorang peneliti yang tak kenal lelah dengan dasar ilmu dan pengetahuan yang luas. Ia selalu memperhatikan akan komunitas-komunitas masyarakat. Selain seorang pejabat penting, ia pun seorang penulis yang produktif. Ia menghargai akan tulisan-tulisannya yang telah ia buat. Bahkan ketidaksempurnaan dalam tulisannya ia lengkapi dan perbaharui dengan memerlukan waktu dan kesabaran. Sehingga karyanya benar-benar berkualitas, yang di adaptasi oleh situasi dan kondisi.

Karena pemikiran-pemikirannya yang briliyan Ibnu Khaldun dipandang sebagai peletak dasar ilmu-ilmu sosial dan politik Islam. Dasar pendidikan Alquran yang diterapkan oleh ayahnya menjadikan Ibnu Khaldun mengerti tentang Islam, dan giat mencari ilmu selain ilmu-ilmu keislaman. Sebagai Muslim dan hafidz Alquran, ia menjunjung tinggi akan kehebatan Alquran. Sebagaimana dikatakan olehnya, “Ketahuilah bahwa pendidikan Alquran termasuk syiar agama yang diterima oleh umat Islam di seluruh dunia Islam. Oleh kerena itu pendidikan Alquran dapat meresap ke dalam hati dan memperkuat iman. Dan pengajaran Alquran pun patut diutamakan sebelum mengembangkan ilmu-ilmu yang lain.”

Jadi, nilai-nilai spiritual sangat di utamakan sekali dalam kajiannya, disamping mengkaji ilmu-ilmu lainnya. Kehancuran suatu negara, masyarakat, atau pun secara individu dapat disebabkan oleh lemahnya nilai-nilai spritual. Pendidikan agama sangatlah penting sekali sebagai dasar untuk menjadikan insan yang beriman dan bertakwa untuk kemaslahatan umat. Itulah kunci keberhasilan

Ibnu Khaldun, ia wafat di Kairo Mesir pada saat bulan suci Ramadan tepatnya pada tanggal 25 Ramadan 808 H./19 Maret 1406 M.
(credit:http://www.kolombiografi.com/2013/10/biografi-ibnu-khaldun-pelopor-dasar.html)

Ibnu Sina - Bapaknya Para Dokter


Jika Anda pelajar SMA, dan berkeinginan kelak untuk melanjutkan studi ke Fakultas Kedokteran di luar negeri, khususnya di Paris, niscaya akan Anda jumpai foto Avicenna terpampang dengan gagah di gedung Fakultas Kedokteran tersebut.
Tertulis di bawahnya,
"Bapak Para Dokter di Dunia."
Itulah Ibnu Sina.

Avicenna, begitu para pakar kedokteran Amerika dan Eropa menyebutnya. Ia adalah tokoh terkemuka di bidang kedokteran yang hidup pada abad ke 10. Nama lengkapnya adalah Abu Ali al Husain ibn Abdallah ibn Sina.
Ibnu Sina lahir pada tahun 981 Masehi di Afsana, kota kecil dekat Bukhara, tempat ahli hadits terkemuka bernama Bukhari.

Sejak kecil Ibnu Sina terkenal amat bersungguh-sungguh dalam belajar dan memang tak ada ilmuwan sukses yang tidak belajar dengan keras.
Bayangkan saja, Ibnu Sina kecil sudah mempelajari ilmu kedokteran sejak usia 10 tahun. Di usia itu pula ia telah hafal 666 keseluruhan ayat Al-Qur'an, dan bahkan sebelumnya Ibnu Sina telah menggeluti Matematika dan ilmu Logika dari seorang guru terkemuka, Abu Abdallah Natili, yang juga seorang filsuf terkenal.

Nah, inilah yang menarik.
Sweet Seventeen Ibnu Sina dilalui dengan teramat manis.
Manis bukan lantaran sang orang tua membuatkan pesta meriah, tapi justru di usia itulah Ibnu Sina dipercaya dan berhasil mengobati hingga sembuh penyakit Raja Bukhara saat itu, Nooh ibn Mansoor. Padahal banyak tabib dan ahli senior tak berhasil mengobatinya.
Raja begitu gembira, Ibnu SIna dimintanya agar sudi tinggal bersamanya di istana Raja. Namun ibnu Sina secara halus menolaknya.
"Bukan aku yang menyembuhkan, tapi Allah SWT."

Dan Ibnu SIna memohon diperbolehkan tinggal di perpustakaan kerajaan.
Ibnu Sina makin luas wawasannya, ia pun menjadi ahli matematika, filsuf dan astronomi. Selain itu, ia juga seorang pustakawan dan psikiater yang handal.
Semangat belajar Ibnu Sina memang tak terkalahkan. Sepeninggal ayahandanya, Ibnu Sina makin sering berkelana, mencari ilmu dan mengajarkannya kemana saja. Ibnu Sina pernah kuliah di Jurjan, sebuah kota di Timur Tengah. Di sini ia berguru ke seorang sastrawan dan ulama besar Abu Raihan al Biruni
Ibnu Sina masih melanjutkan kuliahnya ke Rayy dan Hamadan, kemudian ke Iran. Di sepanjang perjalanannya, ia banyak melahirkan karya besar. Paling tidak ada dua buku referensi dunia dari Ibnu SIna yang amat tersohor.

Kitab Al Qanun fi al Tibb, yang diterjemahkan menjadi The Canon, adalah buku rujukan ilmu kedokteran dunia hingga sekarang. Di dalamnya tertulis ensiklopedia jutaan item pengobatan dan jenis obat-obatan. Konsep penyembuhan sistematis dan berkelanjutan juga diperkenalkan Ibnu Sina. Bahkan ia pula yang mencatat dan memperkenalkan anatomi tubuh manusia secara lengkap untuk pertama kalinya.
Ibnu Sina adalah orang yang pertama kali memisah-misahkan serta merinci seluruh bagian tubuh, misalnya mata, telinga. Ketika itu, Ibnu Sina juga telah menyimpulkan bahwa setiap tubuh manusia dari ujung rambut hingga ujung kaki saling berhubungan.
Dirumuskannya pula, kesehatan fisik dan kesehatan jiwa saling terkait dan saling mendukung.
Ibnu Sina pula yang mengenalkan dunia kedokteran pada ilmu yang sekarang diberi nama patologi dan farmakologi.

Ada lagi satu kitab Ibnu SIna yang amat besar pengaruhnya pada dunia kedokteran.
Asy-Syifa' yang bahasa latin diterjemahkan menjadi Sanatio.
Itulah Ibnu Sina, karya-karya besarnya begitu berjasa dalam membuka cakrawala dunia kedokteran.
Ia meninggal dunia pada tahun 1073, di Hamadan.
Amal jariyahnya mengalir tiada henti hingga sekarang.
Sudah semestinya, jika generasi muslim cendekia saat ini harus belajar keras mengejar ketertinggalan yang ada.
Dengan kisah inspiratif dari Ibnu Sina tersebut, dapat kita ambil hikmah dari sifat Ibnu Sina yaitu sifatnya yang tidak pernah putus asa dalam belajar di iringi keta’atan kepada Allah adalah kuci suksesnya.

Cara-Cara Memperkuat Ukhuwah Islamiyah

Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) adalah ajaran praktis yang bisa kita lakukan dalam keseharian. Karena itu, nikmatnya ukhuwah tidak akan bisa kita rasakan, kecuali dengan mempraktikkannya. Jika delapan cara di bawah ini dilakukan, Anda akan merasakan ikatan ukhuwah Anda dengan saudara-saudara seiman Anda semakin kokoh.

1. Katakan bahwa Anda mencintai saudara Anda

Rasulullah saw. bersabda, “Apabila seseorang mencintai saudaranya, hendaklah dia mengatakan cinta kepadanya.” (Abu Dawud dan Tirmidzi, hadits shahih)

Anas r.a. mengatakan bahwa seseorang berada di sisi Rasulullah saw., lalu salah seorang sahabat melewatinya. Orang yang berada di sisi Rasulullah tersebut mengatakan, “Aku mencintai dia, ya Rasulullah.” Lalu Nabi bersabda, “Apakah kamu sudah memberitahukan dia?” Orang itu menjawab, “Belum.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Beritahukan kepadanya.” Lalu orang tersebut memberitahukannya dan berkata, “Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.” Kemudian orang yang dicintai itu menjawab, “Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.” (Abu Dawud, dengan sanad shahih). Katakan cinta kepada orang yang Anda cintai.

2. Minta didoakan dari jauh saat berpisah

Umar bin Khaththab berkata, “Aku minta izin kepada Nabi Muhammad saw. untuk melaksanakan umrah, lalu Rasulullah saw. mengizinkanku.” Beliau bersabda, “Jangan lupakan kami, wahai saudaraku, dalam do'amu.” Kemudian ia mengatakan satu kalimat yang menggembirakanku bahwa aku mempunyai keberuntungan dengan kalimat itu di dunia. Dalam satu riwayat, beliau bersabda, “Sertakan kami dalam diammu, wahai saudaraku.” (Abu Dawud dan Tirmidzi, hadits hasan shahih)

Rasulullah saw. bersabda, “Tidak seorang hamba mukmin yang berdoa untuk saudaranya dari kejauhan melainkan malaikat berkata, ‘Dan bagimu seperti itu’.” (Muslim)

3. Bila berjumpa, tunjukkan wajah gembira dan senyuman

Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kamu meremehkan kebaikan apapun, walaupun sekadar bertemu saudaramu dengan wajah ceria.” (Muslim)

4. Berjabat tangan dengan erat dan hangat

Berjabat tanganlah acapkali bertemu. Sebab, Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada dua orang muslim yang berjumpa lalu berjabat tangan melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah.” (Abu Dawud)

5. Sering-seringlah berkunjung

Nabi Muhammad saw. bersabda, “Allah swt. berfirman, ‘Pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang mencintai karena Aku, keduanya saling berkunjung karena Aku, dan saling memberi karena Aku’.” (Imam Malik dalam Al-Muwaththa’)

6. Ucapkan selamat saat saudara Anda mendapat kesuksesan

Anas bin Malik berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa bertemu saudaranya dengan membawa sesuatu yang dapat menggembirakannya, pasti Allah akan menggembirakannya pada hari kiamat.” (Thabrani dalam Mu’jam Shagir). Jadilah Anda orang yang paling pertama mengucapkan selamat kala saudara Anda menikah, mendapat anak, menempati rumah baru, pergi haji, naik jabatan, dan lain-lain.

7. Berilah hadiah terutama di waktu-waktu istimewa

Hadits marfu’ dari Anas bahwa, “Hendaklah kamu saling memberi hadiah, karena hadiah itu dapat mewariskan rasa cinta dan menghilangkan kekotoran hati.” (Thabrani)

Thabrani juga meriwayatkan hadits marfu’ dari Aisyah r.a. bahwa, “Biasakanlah kamu saling memberi hadiah, niscaya kamu akan saling mencintai.”

8. Berilah perhatian dan bantu keperluan saudara Anda

Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang melepaskan kesusahan seorang mukmin di dunia niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya di akhirat. Siapa yang memudahkan orang yang kesusahan, niscaya Allah akan memudahkan (urusannya) di dunia dan di akhirat. Siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Dan Allah selalu menolong hamba-Nya jika hamba tersebut menolong saudaranya.” (Muslim)

Karena itu, jadikan diri Anda orang yang paling dahulu membantu kala saudara Anda membutuhkan.

sumber: http://rizkyahmadfirdaus.blogspot.com

*Artikel ini berkaitan dengan Ukhuwah Islamiyah, yaitu antar sesama muslim, dan sesama muslimah, bukan antar muslim-muslimah. Mohon isinya dipahami dengan baik, semoga tidak muncul kesalahpahaman di antara kita dalam memahami isi artikel ini. 'afwan jiddan wa syukran katsiran :D



1 Syawal 1431 H

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bismillahirrahmanirrahim.

Berdasarkan hasil sidang isbad yang dilakukan oleh Departemen Agama Republik Indonesia pada hari Rabu, 8 September 2010, pukul 19.00 WIB, maka ditetapkan, bahwa 1 Syawal 1431 H jatuh pada hari Jumat, 10 September 2010. Hal ini berdasarkan bahwa dari berbagai lokasi pengamatan hilal di Indonesia, tidak satu pun para pengamat yang melihat hilal.

Jadi hari ini, Kamis, 9 September 2010, merupakan hari terakhir Ramadhan 1431 H. Tak berapa lama lagi kita akan berpisah dengan bulan suci ini. Selamat jalan Ramadhan 1431 H, semoga kita masih bisa bertemu Ramadhan 1432 H.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Menahan Pandangan

Secara bahasa, غَضُّ البَصَرِ (gadh-dhul bashar) berarti menahan, mengurangi atau Menundukkan Pandangan [1]. Menahan pandangan bukan berarti menutup atau memejamkan mata hingga tidak melihat sama sekali atau menundukkan kepala ke tanah saja, karena bukan ini yang dimaksudkan di samping tidak akan mampu dilaksanakan. Tetapi yang dimaksud adalah menjaganya dan tidak melepas kendalinya hingga menjadi liar. Pandangan yang terpelihara adalah apabila seseorang memandang sesuatu yang bukan aurat orang lain lalu ia tidak mengamat-amati kecantikan/kegantengannya, tidak berlama-lama memandangnya, dan tidak memelototi apa yang dilihatnya [2]. Dengan kata lain menahan dari apa yang diharamkan oleh Allah swt dan rasul-Nya untuk kita memandangnya [3].

Dalil Kewajiban Menahan Pandangan

1. Al-Quran:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.” (An-Nur [24]: 30-31)

Para ulama tafsir menyebutkan bahwa kata min dalam min absharihim maknanya adalah sebagian, untuk menegaskan bahwa yang diharamkan oleh Allah swt hanyalah pandangan yang dapat dikontrol atau disengaja, sedangkan pandangan tiba-tiba tanpa sengaja dimaafkan. Atau untuk menegaskan bahwa kebanyakan pandangan itu halal, yang diharamkan hanya sedikit saja. Berbeda dengan perintah memelihara kemaluan yang tidak menggunakan kata min karena semua pintu pemuasan seksual dengan kemaluan adalah haram kecuali yang diizinkan oleh syariat saja (nikah).[4]

Larangan menahan pandangan didahulukan dari menjaga kemaluan karena pandangan yang haram adalah awal dari terjadinya perbuatan zina.

2. Hadits Rasulullah saw:

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِي أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِي (رواه مسلم).

Dari Jarir bin Abdillah ra berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang pandangan tiba-tiba (tanpa sengaja), lalu beliau memerintahkanku untuk memalingkannya. (HR. Muslim).

Maksudnya jangan meneruskan pandanganmu, karena pandangan tiba-tiba tanpa sengaja itu dimaafkan, tapi bila diteruskan berarti disengaja.

((لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ، وَلاَ تَنْظُرُ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ، وَلاَ يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ، وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ)). (رواه مسلم وأحمد وأبو داود والترمذي).

Seorang laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki lain, dan seorang perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan lain. Seorang laki-laki tidak boleh bersatu (bercampur) dengan laki-laki lain dalam satu pakaian, dan seorang perempuan tidak boleh bercampur dengan perempuan lain dalam satu pakaian. (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud & Tirmidzi).

((يَا عَلِيُّ، لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ؟ فَإِنَّ لَكَ الأُوْلَى، وَلَيْسَتْ لَكَ الآخِرَةُ)) [رواه الترمذي وأبو داود وحسنه الألباني].

Wahai Ali, jangan kamu ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya, karena yang pertama itu boleh (dimaafkan) sedangkan yang berikutnya tidak. (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud dan di-hasan-kan oleh Al-Bani).

((الْعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ، وَزِنَاهُمَا النَّظَرُ)) [متفق عليه].

Dua mata itu berzina, dan zinanya adalah memandang. (Muttafaq ‘alaih).

Penyebab Mengumbar Pandangan

Di antara faktor-faktor yang menyebabkan seseorang mengumbar pandangannya adalah:

1. Mengikuti hawa nafsu dan ajakan syaithan
2. Jahil (tidak tahu) terhadap akibat negatif mengumbar pandangan, di antaranya bahwa mengumbar pandangan itu penyebab utama zina.
3. Hanya mengandalkan dan mengingat ampunan Allah swt dan lupa terhadap ancaman siksa-Nya.
4. Melihat atau menyaksikan media yang porno atau berbau pornografi baik cetak, elektronik, atau internet.
5. Tidak menikah atau menunda pernikahan bagi mereka yang sebenarnya telah siap untuk menikah.
6. Sering berada di tempat-tempat bercampurbaurnya laki-laki dan perempuan, seperti pasar atau mall.
7. Merasakan kelezatan semu ketika memandang yang haram sebagai akibat dari lemahnya iman dan tidak hadirnya keagungan Allah swt dalam hatinya. Karena orang yang merasakan keagungan-Nya pasti akan bersedih kalau berbuat maksiat kepada-Nya.
8. Godaan dari lawan jenis berupa pakaian yang membuka aurat, ucapan, atau gerakan tubuh yang menarik perhatian.

Akibat Negatif Memandang yang Haram

1. Rusaknya hati.

Pandangan yang haram dapat mematikan hati seperti anak panah mematikan seseorang atau minimal melukainya. Seorang penyair berkata:
لِقَلْبِكَ يَوْمًا أَتْعَبَتْكَ الْمَنَاظِرُ وَكُنْتَ إِذَا أَرْسَلْتَ طَرْفَكَ رَائِدًا
عَلَيْهِ وَلاَ عَنْ بَعْضِهِ أَنْتَ صَابِرُ رَأَيْتَ الَّذِي لاَ كُلَّهُ أَنْتَ قَادِرٌ

Kau ingin puaskan hatimu dengan mengumbar pandanganmu

Suatu saat pandangan itu pasti kan menyusahkanmu.

Engkau tak kan tahan melihat semuanya,

Bahkan terhadap sebagiannya pun kesabaranmu tak berdaya.

Atau seperti percikan api yang membakar daun atau ranting kering lalu membesar dan membakar semuanya:
وَمُعْظَمُ النَّارِ مِنْ مُسْتَصْغَرِ الشَّرَرِ كُلُّ الحَوَادِثِ مَبْدَؤُهَا النَّظَرُ

Segala peristiwa bermula dari pandangan,

dan api yang besar itu berasal dari percikan api yang kecil.

2. Terancam jatuh kepada zina.

Ibnul Qayyim berkata bahwa pandangan mata yang haram akan melahirkan lintasan pikiran, lintasan pikiran melahirkan ide, sedangkan ide memunculkan nafsu, lalu nafsu melahirkan kehendak, kemudian kehendak itu menguat hingga menjadi tekad yang kuat dan biasanya diwujudkan dalam amal perbuatan (zina). Penyair berkata:
فَكَلاَمٌ فَمَوْعِدٌ فَلِقَاءُ نَظْرَةٌ فَابْتِسَامَةٌ فَسَلاَمٌ

Bermula dari pandangan, senyuman, lalu salam,..

Lantas bercakap-cakap, membuat janji, akhirnya bertemu.

3. Lupa ilmu.

4. Turunnya bala’

Amr bin Murrah berkata: “Aku pernah memandang seorang perempuan yang membuatku terpesona, kemudian mataku menjadi buta. Ku harap itu menjadi kafarat penghapus dosaku.”

5. Merusak sebagian amal.

Hudzaifah ra berkata: “Barangsiapa membayangkan bentuk tubuh perempuan di balik bajunya berarti ia telah membatalkan puasanya.”

6. Menambah lalai terhadap Allah swt dan hari akhirat.

7. Rendahnya mata yang memandang yang haram dalam pandangan syariat Islam.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: ((لَوِ اطَّلَعَ أَحَدٌ فِي بَيْتِكَ وَلَمْ تَأْذَنْ لَهُ، فَخَذَفْتَهُ بِحَصَاةٍ فَفَقَأْتَ عَيْنَهُ، مَا كَانَ عَلَيْكَ جُنَاحٌ)) (متفق عليه).

Dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: “Jika seseorang melongok ke dalam rumahmu tanpa izinmu, lalu kau sambit dengan kerikil hingga buta matanya, tak ada dosa bagimu karenanya.” (Muttafaq ‘alaih).

Manfaat Menahan Pandangan

Di antara manfaat menahan pandangan adalah:

1. Membebaskan hati dari pedihnya penyesalan, karena barangsiapa yang mengumbar pandangannya maka penyesalannya akan berlangsung lama.

2. Hati yang bercahaya dan terpancar pada tubuh terutama mata dan wajah, begitu pula sebaliknya jika seseorang mengumbar pandangannya.

3. Terbukanya pintu ilmu dan faktor-faktor untuk menguasainya karena hati yang bercahaya dan penuh konsentrasi. Imam Syafi’i berkata:

شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي
وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ العِـلْمَ نُـوْرٌ وَنُوْرُ اللهِ لاَ يُهْـدَي لِعَاصِي

Kuadukan kepada Waki’, guruku, tentang buruknya hafalan

Arahannya: “Tinggalkanlah maksiat.”

Diberitahukannya bahwa ilmu itu cahaya,

Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.

4. Mempertajam firasat dan prediksi

Syuja’ Al-Karmani berkata:

مَنْ عَمَرَ ظَاهِرَهُ بِاتِّبَاعِ السُّنَّةِ، وَبَاطِنَهُ بِدَوَامِ الْمُرَاقَبَةِ، وَغَضَّ بَصَرَهُ عَنِ الْمَحَارِمِ، وَكَفَّ نَفْسَهُ عَنِ الشَّهَوَاتِ، وَأَكَلَ مِنَ الْحَلاَلِ- لَمْ تُخْطِئْ فِرَاسَتُهُ.

“Siapa yang menyuburkan lahiriyahnya dengan mengikuti sunnah, menghiasi batinnya dengan muraqabah, Menundukkan Pandangannya dari yang haram, menahan dirinya dari syahwat, dan memakan yang halal maka firasatnya tidak akan salah.”

5. Menjadi salah satu penyebab datangnya mahabbatullah (cinta Allah swt).

Al-Hasan bin Mujahid berkata:

غَضُّ البَصَرِ عَنْ مَحَارِمِ اللهِ يُوْرِثُ حُبَّ اللهِ.

Menahan pandangan dari apa yang diharamkan Allah swt akan mewarisi cinta Allah.

Faktor-faktor Penyebab Mampu Menahan Pandangan

Di antara faktor yang membuat seseorang mampu menahan pandangannya adalah:

1. Hadirnya pengawasan Allah dan rasa takut akan siksa-Nya di dalam hati.
2. Menjauhkan diri dari semua penyebab mengumbar pandangan seperti yang telah disebutkan.
3. Meyakini semua bahaya mengumbar pandangan seperti yang telah disebutkan.
4. Meyakini manfaat menahan pandangan.
5. Melaksanakan pesan Rasulullah saw untuk segera memalingkan pandangan ketika melihat yang haram.
6. Memperbanyak puasa.
7. Menyalurkan keinginan melalui jalan yang halal (pernikahan).
8. Bergaul dengan orang-orang shalih dan menjauhkan diri dari persahabatan akrab dengan orang-orang yang rusak akhlaqnya.
9. Selalu merasa takut dengan su’ul khatimah ketika meninggal dunia.


from : http://ridhaallah.wordpress.com

Tanda-tanda Ajal Menjelang

Ada seorang hamba yang begitu taat kepada Tuhan. Sebut saja namanya Fulan. Fulan sangat rajin beribadah. Pendeknya, Fulan ini tak pernah lalai sekalu pun kepada Allah SWT.

Suatu hari ada yang bertemu ke rumah Fulan. Betapa kaget Fulan ketika mengetahui siapa gerangan yang datang bertamu. Tamu itu ternyata Izrail, malaikat pencabut nyawa. Terjadilah tanya jawab antara Fulan dengan tamunya itu.

"Wahai sahabatku, Izrail! Apakah perihal kedatanganmu ke mari adalah atas perintah Tuhan untuk mencabut nyawaku, ataukah hanya kunjungan biasa?"

"Ya, Fulan sahabatku! Kedatanganku kali ini tidak dalam rangka mencabut nyawamu. Kedatanganku ini hanya kunjungan biasa. Kunjungan seorang sahabat kepada sahabatnya."

Mendengar penjelasan Izrail, maka seketika bersinarlah wajah Fulan karena gembiranya. Mereka lalu berckap-cakap sampai tiba saatnya Izrail akan pamit.

"Wahai sahabatku, Izrail! Sebagai tanda persahabatan kita, aku ada harapan kepadamu kiranya engkau tidak berkeberatan untuk mengabulkannya."

"Gerangan apakah permohonanmu itu, hai Fulan sahabatku?"

"Begini, ya Izrail. Jika nanti kau datang lagi kepadaku dengan maksud untuk mencabut nyawaku, maka mohon kiranya engkau mau mengirimkan seorang utusan kepadaku terlebih dahulu. Jika demikian, maka aku ada waktu untuk bersiap-siap menyambut kedatanganmu."

"Oh, begitu? Hai, Fulan, kalau hanya itu permohonanmu, aku kabulkan. Aku berjanji akan mengirimkan utusan itu kepadamu."

Gembiralah Fulan menerima janji Izrail. Rupanya Izrail ini berbaik hati mau mengabulkan harapanku, demikian pikir Fulan.

Demikian kisahnya, waktu pun berjalan.
Tahun berganti tahun.
Tak terasa bahwa pertemuan antara Fulan dengan Izrail telah sekian lama berlalu.
Kehidupan berlangsung tersus sampai suatu ketika Fulan kaget sekali.
Tak disangka-sangka sebelumnya Izrail muncul di rumahnya.
Fulan merasa bahwa kedatangan Izrail ini begitu mendadak, padahal ada komitmen janji Izrail kepadanya.

"Wahai, Izrail sahabatku! Mengapa engkau tak mengirimkan utusanmu kepadaku? Mengapa engkau ingkar janji?"

Dengan tersenyum, Izrail menjawab,

"Wahai Fulan, sahabatku!
Sesungguhnya aku sudah mengirimkan utusanku itu kepadamu, hanya kamu sendiri yang mungkin tidak menyadarinya.
Coba perhatikan punggungmu, dulu ia tegak tetapi sekarang bungkuk.
Perhatikan caramu berjalan, dulu kamu begitu tegap perkasa, sekarang gemetaran dengan ditopang tongkat.
Perhatikan penglihatanmu, dulu ia bersinar sehingga orang luluh kena sorotnya tetapi sekarang kabur dan lemah.
Ya, Fulan, bukankah pikiran-pikiranmu sekarang mudah putus asa padahal ia dulu begitu enerjik dan penuh berbagai harapan?
Tempo hari kamu hanya menginginkan seorang utusan saja dariku, tetapi aku telah mengirimkan begitu banyak utusanku kepadamu"!

Subhanallah, Indahnya Ngarai Sianok!

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kali ini, Rohis Smansa ingin membawa pembaca semua ke salah satu objek wisata terkenal di Sumatera Barat, yaitu Ngarai Sianok. Tentunya, membawa disini bukan berarti badan kita benar-benar berada di sana. Badan kita tetap berada di depan tulisan ini, sedangkan hati dan pikiran kita akan kita bawa terbang ke Ngarai Sianok.

Ngarai Sianok adalah sebuah lembah curam yang terletak di perbatasan kota Bukittinggi, dengan Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Tempat ini berjarak sekitar 85 kilometer dari kota Padang, ibukota propinsi Sumatera Barat. Lembah ini memanjang dan berkelok sebagai garis batas kota dari selatan ngarai Koto Gadang sampai di Ngarai Sianok Enam Suku, dan berakhir sampai Palupuh. Pemandangannya yang sangat indah menjadikan Ngarai Sianok sebagai salah satu objek wisata utama provinsi Sumatera Barat.

Ngarai yang dalamnya sekitar 100 meter ini membentang sepanjang 15 kilometer dengan lebar sekitar 200 meter dan merupakan bagian dari patahan yang memisahkan Pulau Sumatera menjadi dua bagian memanjang (Patahan Semangko). Patahan ini membentuk dinding yang curam yang dialiri oleh Batang Sianok. Di tepian Batang Sianok ini masih banyak dijumpai tumbuhan langka seperti rafflesia dan tumbuhan obat-obatan. Fauna yang dijumpai misalnya monyet ekor panjang, siamang, simpai, rusa, babi hutan, macan tutul, serta tapir.

Sebagai salah satu objek wisata utama, Ngarai Sianok banyak dikunjungi oleh turis dari dalam maupun luar negeri. Pesona alamnya yang sangat unik mampu membuat orang-orang yang memandangnya berdecak kagum. Sawah, desa, dan pepohonan yang hijau terlihat begitu memukau di dasarnya. Belum lagi populasi kerbau yang sudah memang terkenal di tempat ini sejak zaman kolonial Belanda. Berbagai fotografi dari turis-turis dengan latar belakang objek wisata ini terus bermunculan. Keindahan alam Ngarai Sianok bahkan menginspirasi berbagai pelukis untuk membuat lukisan tentangnya.

Objek lain yang cukup terkenal pada tempat ini adalah sebuah gua yang disebut Lobang Jepang. Lokasi Lobang Jepang dari Ngarai Sianok dibagian atas dan tembus ke Ngarai bagian bawah. Gua ini dibangun oleh rakyat Sumatera Barat secara paksa pada zaman pendudukan Jepang. Benteng Lobang Jepang terdiri dari lorong panjang berliku-liku, ada ruangan rapat, ruangan tidur, ruangan tahanan dan dapur.








Subhanallah, indah banget kan? Kita mesti bersyukur, karena Allah telah menciptakan sebuah bentang alam yang mampu menarik banyak wisatawan itu. Dan tentu, dengan mensyukuri nikmat Allah tersebut, kualitas iman kita akan semakin bertambah. Kita akan semakin menyadari betapa besarnya kekuasaan Allah. Kewajiban kita adalah untuk menjaga dan melestarikan alam ini. Jangan sampai kita menjadi perusak alam sebagaimana yang dikhawatirkan para malaikat dalam QS Al-Baqarah: 30. Tapi hendaknya, kita menjadi seorang khalifah yang mampu berbuat baik di muka bumi ini.

Baiklah, sekian jalan-jalan bersama Rohis Smansa pada kesempatan ini. Mudah-mudahan Rohis Smansa dapat membawa pembaca ke tempat lain di kesempatan berikutnya. Mohon maaf atas segala kesalahan.


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kenapa Bergunjing Menghabiskan Pahala Puasa?

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Pada malam hari tanggal 11 Agustus 2010, penulis sedang berada di mesjid di lingkungan tempat tinggal penulis. Saat itu penulis sedang mendengarkan ceramah tarawih. Topik ceramah saat itu adalah hal-hal yang merusak pahala puasa. Ada satu hal yang menarik pada saat sang ustadz menyampaikan materi tersebut, yaitu saat sang ustadz menjelaskan tentang bergunjing. Dalam kesempatan ini, penulis akan mencoba membuat sebuah tulisan yang terinspirasi dari materi malam itu.

Gunjing (ghibbah) adalah menceritakan aib/keburukan seseorang kepada orang lain. Perlu ditegaskan, gunjing adalah menceritakan hal yang sebenar-benarnya. Hal ini berbeda dengan fitnah, yaitu menceritakan hal yang dusta. Hukum bergunjing dijelaskan dalam Quran.

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS Al-Hujurat: 12)

Sedangkan hukum fitnah dijelaskan dalam potongan ayat berikut.

"... Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. ..." (QS Al-Baqarah: 217)

Dari kedua ayat tersebut, antara fitnah dan gunjing sama-sama berbahaya. Namun, bahaya fitnah lebih besar daripada gunjingan. Kedua hal inilah yang sering disalahartikan oleh kebanyakan orang. Ketika mereka sedang menceritakan aib orang lain, mereka tidak merasa bergunjing, melainkan menceritakan yang sebenarnya. Padahal justru itulah yang sebenarnya bergunjing itu.

Kembali ke awal, gunjing adalah salah satu amal yang menghabiskan pahala puasa. Mengapa demikian?

Jika kita baca kembali QS Al-Hujurat: 12, kita akan menemukan bergunjing sama dengan memakan daging saudaramu yang telah mati. Jika kita bergunjing pada saat berpuasa, maka sama saja kita makan pada saat berpuasa, yang berarti?

Walaupun demikian, kita tidak benar-benar makan. Karena itulah, puasa kita tidak batal apabila kita bergunjing. Tapi, karena kita telah melakukan sesuatu yang nilainya sama dengan makan, maka puasa kita akan menjadi sia-sia. Ibarat mengisi air pada ember yang bocor. Air kita isikan, tapi ember itu tidak pernah penuh. Kita telah susah-payah berpuasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari, tapi tidak ada ganjaran pahala yang kita peroleh.

Oleh karena itu, marilah kita hindari gunjing ini. Tidak terbatas hanya pada saat berpuasa, melainkan kita perlu menghindarinya sepanjang waktu. Jika sifat gunjing ini sudah hilang, maka sifat-sifat buruk lain yang berkaitan juga akan hilang, seperti iri hati dan dengki.

Demikianlah catatan kecil ini. Mohon dimaafkan atas segala kesalahan, karena kesalahan itu berasal dari diri penulis sendiri, sedangkan semua kebenaran bersumber dari Allah SWT.


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Menuntut Ilmu

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

1. Bacalah! Dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.
2. (Dia) Menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah! Dan Tuhanmu yang Maha Mulia.
4. Yang telah mengajarkan dengan perantara qalam.
5. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.


Kutipan ayat di atas merupakan surah Al-'Alaq, surah ke 96 di Al-Quran, ayat 1-5. Ayat ini merupakan wahyu pertama yang diturunkan Rasulullah SAW, pada saat beliau sedang menyendiri di gua Hira'.

Kata pertama pada ayat ini adalah sebuah kata perintah, iqro' (bacalah). Jika diteliti lebih lanjut, perintah ini ditujukan Allah bukan hanya kepada Rasulullah SAW saja, tapi juga bagi seluruh umat manusia. Apakah makna tersirat dibalik ayat ini?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, marilah kita bergerak ke ayat keempat surah ini. Yang telah mengajarkan dengan perantara qalam. Qalam secara bahasa berarti pena. Sedangkan secara istilah, qalam adalah cara untuk menyampaikan sebuah informasi dari suatu pihak ke pihak lainnya. Contoh qalam sangat mudah ditemukan. Buku-buku pelajaran yang berisi ilmu pengetahuan termasuk ke dalam qalam. Tidak terbatas hanya kepada buku, media-media informasi lainnya, seperti koran, majalah, televisi, radio, internet, dan lain sebagainya pun bisa dikategorikan sebagai qalam. Jika kita kaitkan kembali dengan ayat pertama surah tersebut, maka maksud dari perintah iqro' adalah menyuruh manusia untuk belajar. Sedangkan pada ayat kelima, Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya, Allah memberikan penegasan terhadap perintah tersebut.

Inti dari kelima ayat tersebut adalah perintah Allah kepada umat manusia agar mau belajar. Kenapa Allah begitu menegaskan perintah ini di dalam Al-Quran?

Well, tujuan utama dari belajar adalah untuk menuntut ilmu. Ketika seseorang sedang belajar, maka dia akan memperoleh sedikit dari ilmu Allah. Ilmu yang sedikit ini terkadang tidak bisa dimanfaatkan. Seseorang akan membutuhkan ilmu yang lebih banyak lagi, agar manfaat dari ilmu itu terus bertambah. Hal ini tidak jarang membuat seseorang pergi merantau dari suatu tempat ke tempat lainnya untuk mencari ilmu sepanjang hidupnya. Tidak ada kata pensiun untuk mencari ilmu, dan tidak ada batasan dalam mencari ilmu. Selagi sanggup, tuntutlah ilmu setinggi-tingginya.

Banyak manfaat dari menuntut ilmu. Tapi di antara sekian banyak manfaat tersebut, ada satu manfaat utama dari menuntut ilmu. Seseorang yang berilmu akan lebih berkesempatan untuk merasakan kekuasaan Allah. Sebagai contoh, banyak fenomena-fenomena alam yang tersirat di Quran. Fenomena ini hanya bisa dibuktikan oleh orang-orang yang berilmu. Saat orang-orang berilmu berhasil membuktikan fenomena tersebut, mereka menyadari bahwa kekuasaan Allah itu benar-benar ada dan sangat luas, meliputi langit dan bumi. Hal ini akan meningkatkan keimanan mereka kepada Allah SWT. Selain itu, banyak para ilmuwan yang sebelumnya non muslim menyatakan diri masuk agama Islam setelah berhasil membuktikan kebenaran Quran. Karena itulah, Allah juga mengangkat derajat orang-orang yang berilmu.

"Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat" (QS Al-Mujadillah: 11)

''Seorang yang berilmu (alim) dimintakan ampun oleh penduduk langit dan bumi serta oleh ikan-ikan di air. Kelebihan seorang alim atas seorang abid (ahli ibadah) adalah seperti kelebihan sinar bulan atas sinar bintang-bintang.'' (HR Abu Dawud dan Attirmidzi)

Oleh karena itu, marilah kita selalu berusaha mencari ilmu dalam hidup ini. Tidak hanya ilmu yang bersifat duniawi seperti matematika, fisika, kimia, biologi, dan sebagainya yang kita pelajari, tapi juga ilmu-ilmu keagamaan. Perpaduan yang tepat antara ilmu duniawi dan ilmu keagamaan Insya Allah akan menjadikan seseorang sebagai khalifah yang kuat di dunia dan sebagai hamba Allah yang mendapatkan rahmat di akhirat kelak.

Demikianlah catatan kecil ini. Mohon dimaafkan atas segala kesalahan, karena kesalahan itu berasal dari diri penulis sendiri, sedangkan semua kebenaran bersumber dari Allah SWT.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

;;